Museum sendiri berasal dari bahasa Yunani, "Museion" yang berarti tempat suci untuk memuja sembilan dewi yang dijadikan simbol dalam dunia ilmu pengetahuan dan kesenian (Edi Dimyati-47 Museum Jakarta, 2010).
Kesadaran ini dimulai ketika saya penasaran dengan yang namanya Kota Tua Jakarta. Pada saat libur kuliah, saya menyempatkan diri ke Jakarta, karena kebetulan ayah saya juga bekerja dan tinggal di sana. Saat ditawari mau jalan-jalan kemana oleh ayah saya, yang terlintas dalam pikiran saya hanya Kota Tua (yang hanya bisa saya lihat di televisi saja sebelumnya). Akhirnya berangkatlah saya ke sana bersama ibu dan adik saya. Kami diantar oleh supir kantor dan di drop di Kantor Pos Fatahillah. Udara Jakarta yang (aduhai) panasnya tidak menyurutkan niat saya (entah dengan ibu dan adik saya, hehe) untuk mengelilingi kawasan Kota Tua Jakarta.
Tujuan pertama (pastinya) adalah Museum Sejarah Jakarta atau yang biasa disebut Museum Fatahillah. Bangunannya yang kolosal memberikan kesan tersendiri bagi saya. Museum ini terdiri dari beberapa ruangan, diantaranya Ruang Sejarah Jakarta, Ruang Etnografi, serta Ruangan yang berisi mebel-mebel bekas peninggalan pemerintahan Belanda (di lantai 2). Memang, kesan angker sempat meliputi pikiran saya saat memasuki gedung ini (khususnya saat berada di lantai 2). Tapi, kesan itu tertutupi dengan beragam koleksi museum yang informatif dan sarat makna.
Selanjutnya kami bergegas ke Museum Wayang yang letaknya di sebelah Museum Fatahillah. Bangunan museum ini menurut saya sangat unik, seperti rumah boneka (tentunya dengan ciri khas klasik). Di dalamnya terdapat banyak sekali koleksi wayang baik dari seluruh penjuru Indonesia, hingga wayang-wayang dari luar negeri, diantaranya dari Thailand, Suriname, Malaysia, India, Pakistan, dan beberapa negara lainnya. Ternyata di dalam museum ini ada juga koleksi boneka asli Unyil dan kawan-kawan (sayang, saya lupa mengabadikannya).
Setelah puas di Museum Wayang, kami lalu menuju ke Museum bank Mandiri. FYI, museum ini merupakan museum perbankan yang pertama dan terlengkap di Indonesia. Museum ini mengoleksi beragam hal mengenai dunia perbankan dari zaman baheula sampai sekarang. Diantaranya koleksi surat-surat berharga, sempoa, peti uang, brankas, dan lainnya. Namun, lagi-lagi saya terkagum-kagum dengan sentuhan arsitektur gedung ini. Perabotan klasik dan ragam hiasan kaca patri menghiasi gedung perkantoran zaman Belanda ini. Ternyata ibu saya sudah merengek minta pulang (kebalik yaa..??). Nggak minta pulang juga sih, soalnya beliau janjian sama temennya di Bogor. Walhasil, perjalanan Kota Tua nggak berhasil keubek semuanya dan berakhir di Stasiun Kota yang dilanjutkan dengan menaiki sebuah kereta listrik menuju Bogor....
Tapi.. tapiiii, besoknya saya bersama tim (taeelaaa, tiiim... cuma bertiga doang juga) berjelajah di Monumen Nasional alias Monas. Jakarta lagi terik-teriknya tuh, berasa matahari ada 5 di atas kepala. Tapi kebayar juga sih sama keindahan dan kemegahan monumen yang bangunannya terinspirasi dari alu dan lumpang ini. Apalagi sama diorama-diorama 3 dimensi yang mantap yang menceritakan perjalanan bangsa Indonesia dari zaman purbakala hingga usaha-usaha para pahlawan mempertahanakan kemerdekaan Indonesia. Setelah itu, kami menuju Ruang Kemerdekaan yang berada di dalam cawan tugu. Sumpah, merindiiiing!!! Bukan karena tempatnya yang rada gelap dan bikin angker, tapi sama display yang ada di dalamnya. Di tempat ini, pengunjung diajak merenungkan hikmah dari perjalanan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan. Ada empat atribut Kemerdekaan RI, yaitu Peta Kepulauan Negara Republik Indonesia, Bendera Sang Saka Merah Putih, Lambang Negara Bhinneka Tunggal Ika, dan Pintu Gapura yang di dalamnya berisi naskah proklamasi kemerdekaan (yang satu ini yang bikin saya super merinding, bagussss bangeeet). Dijamin, masuk ke dalam ruangan ini, rasa nasionalisme secara kuat akan bangkit dalam diri Anda..!!!Nggak mau melewatkan waktu, perjalanan dilanjutkan menuju puncak Monas. Ngantri juga sih, wong lift nya cuma ada 1 (inget banget pas ngantri ada anak TK mirip banget Susno Duadji.. haha, jadi keinget sama Oom yang satu ini. By the way, berita Oom ini kok udah ilang yaaa?? hehe). Sesampainya di puncak Monas, pemandangan Kota Jakarta dari atas terlihat jelas. Macet, demonstrasi, dan polusi. Tapi, nggak itu juga sih, banyak kok hal-hal lain yang saya kagumi saat melihat Jakarta dari atas, salah satunya Masjid Istiqlal yang super megah. Puas di puncak, kami pun turun kembali ke lantai dasar. Setelah jepret sana-sini (narsis pangkal eksis..!!), kami pun pulang....
Singkat cerita, saya kembali ke Bandung dan beraktivitas normal lagi (kuliah, siaran, marching band, makan, tidurrrr... hehe). Saat buka-buka facebook, ada sebuah informasi terbitnya sebuah buku mengenai museum, yaitu "47 Museum Jakarta" karya Edi Dimyati. Haha, kebetulan banget nih buku datang di saat saya memulai mencintai hal-hal yang berbau museum-museum-an... (maksa banget lah, hehe). Tanpa mikir nunggu wangsit, saya langsung tancap gas ke Gramed dan beli buku itu. Baca di rumah, dan langsung khatam. Wah, ternyata banyak juga tempat-tempat bersejarah di Jakarta yang wajib disambangi nih, pikir saya. Saya pun membuat rencana untuk berlibur kembali ke Jakarta dan berniat menjelajahi museum-museum yang direkomendasikan di buku ini.Waktu berlibur pun tibaaa...!!! Kembali ke Jakarta dan merealisasikan semua rencana..!!
Museum yang pertama kami kunjungi adalah Museum Nasional RI atau bisa disebut Museum Gajah. Wiih, gede banget nih museum, jadi keinget sama museum di film Night at the Museum-nya Ben Stiller. Udah pasti, museumnya gede, koleksinya juga bejibunnn. Jumlah koleksinya paling banyak diantara museum yang ada di Indonesia. Kompliit banget. Mulai dari zaman purba (pastiii), struktur geografi alam Indonesia, koleksi prasasti, penggolongan peradaban di Indonesia, kebudayaan bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke, dan sebagainya. Menurut buku yang saya baca, ternyata nggak semua koleksi yang dimiliki museum ini dipamerkan. Dari total 142.000 koleksi, hanya sekitar 30% saja yang dapat dinikmati pengunjung (gedungnya segede apa kalo emang bener 100% semua koleksi dipajang..????). Cuma sayang waktu saya ke sana, eskalator museum ini lagi mati (untungnya ada lift, jadi nggak usah meniti tangga eskalator, ogaaah deh..!!)
Hujan sempat membuat perjalanan kami terhenti sejenak. Pak sopir pun menyarankan untuk menuju Museum Taman Prasasti yang berlokasi tidak jauh dari Museum Nasional RI. Yaa, saya sih oke-oke aja. Brangkaaat..
Sesampainya di sana, hujan emang udah berhenti. Meskipun judulnya Makam, cuma nggak ada kesan angker di dalamnya (ada sih dikit mah.. hahaha, sepi pula). Suasana adem pun menyelimuti taman ini. Saya berjalan bersama adik saya menyusuri jalan setapak yang mengelilingi taman ini. Prasasti nisan bertebaran di dalamnya. Ada yang berbentuk tugu, monumen, piala, replika, patung, dan sebagainya. Museum Taman Prasasti ini cocok dijadikan tempat untuk menyalurkan hobi fotografi. Nggak heran, saat saya ke sana, ada beberapa kelompok orang yang sedang melakukan pemotretan. Saya?? Nggak mau kalah dooong... hehehe. Tapi pemandangan karung-karung sampah yang berisi dedaunan kering merusak suasana taman yang asri ini.
Setelah puas di Taman Prasasti, kami menuju Museum Sumpah Pemuda, di bilangan Kramat Raya. Kenapa Museum Sumpah Pemuda? Karena, saya lahir bertepatan dengan peringatan Sumpah Pemuda, jadi ada kedekatan tersendiri dengan momen tersebut, hehe. Pertamakali saya tiba di museum itu, hanya satu kata, sepi. Ya mungkin karena saya datang mepet jam 15.00, jam akan ditutupnya museum tersebut. Untungnya penjaga museum masih mempersilakan kami masuk (hehe, makasih Paak..!!). Namun, saat saya melihat buku tamu, tertulis pada hari itu, baru 1 orang yang datang ke museum tersebut. Miris banget. Padahal, museum itu letaknya persis di pinggiran jalan yang ramai.
Saat saya masuk ke dalamnya, entah mengapa seperti ada kebanggaan tersendiri dalam diri saya. Melihat foto para tokoh pemuda, dan foto-foto aktivitas mereka, serta perjalanan Kongres Pemuda pada saat itu, membuat saya semakin bangga pada mereka, para pemuda Indonesia yang berusaha mempersatukan bangsa ini. Koleksi museum ini diantaranya adalah Biola W. R. Supratman yang digunakan untuk melantunkan lagu "Indonesia Raya".Hari pun sudah mulai sore. Perjalanan kali ini ditutup di Museum Sumpah Pemuda. Puas?? BELUM. Masih banyak museum lain yang belum (dan sepertinya, harus) saya jelajahi. Menjadi suatu ketagihan bagi saya untuk berpetualang mengarungi keanekaragaman sejarah bangsa ini. Darimana lagi kita belajar sejarah selain dari bangunan-bangunan berharga ini? Dengan memahami sejarah bangsa ini, baik secara disadari atau tidak, kita pasti akan lebih menghargai bangsa ini bersama perjuangan para pendahulu kita.
Terimakasih banyak kepada Ibu dan Adik saya, Lala, yang udah mau ikut jalan-jalan bareng ke museum. Semoga ada manfaatnya ya, Dek..
Nggak lupa makasih banyak juga buat Kang Edi Dimyati, selaku penulis buku "47 Museum Jakarta" yang menginspirasikan saya untuk terus berniat menjelajahi beragam museum-museum spektakuler (ditunggu buku tentang museum di Bandung / Jawa Barat ya Kang, biar lebih deket, hehe..)
Hidup Museum Indonesia..!! MERDEKAAA...!!
:: iio ::






No comments:
Post a Comment