Saturday, December 5, 2009
Sorrow
Tuesday, May 26, 2009
REPORTER AND THE CITY, Catatan Konyol Seorang Reporter
Penulis : Noni Wibisono
Penerbit : Gagas Media
Harga : Rp 30.000,00 (Gramedia Bookstore)
Pekerjaan sebagai reporter emang nggak gampang. Harus berpikir cepat dalam situasi yang sangat tidak kondusif sekalipun. Banyak tantangan yang harus dihadapi mereka ketika menembus “medan perang”. Nggak cuma itu, nampaknya ancaman kematian pun selalu membayangi mereka di setiap tugas peliputan. Waktu sedetik pun amat berharga bagi mereka. Itulah yang saya suka dari pekerjaan seorang reporter, I Want to be Like Them…!!!
Kalian mungkin berpikir seorang reporter identik dengan keseriusan dan kemandirian yang kuat. Tapi, Kalian cuma bakal mendapatkan sedikit dari hal-hal tersebut kalo Kalian baca buku ini. Yang ada malah seorang reporter yang beda dari yang lainnya. Manja, Penakut, Lebay, dan Fashionable. Berbeda dari pandangan orang mengenai seorang reporter yang kucel-kumel dan nggak mementingkan penampilannya saat liputan. Siapakah dia?? Dialah NONI WIBISONO, seorang Reporter dan News Presenter Trans TV. Awalnya saya nggak nyangka Teh Noni adalah orang yang manja, penakut, lebay, dan fashionable seperti itu. Keliatan banget pas ngebawain berita mukanya tuh ayyyuuu banget, keibuan, dan lemah lembut. Ternyata, Oooh No..
Buku ini menceritakan tentang kegiatan Teh Noni pada saat Beliau menjalankan tugas liputannya. Kejadian konyol mewarnai proses peliputan berita tersebut. Siapa lagi kalo bukan Teh Noni sendiri yang menciptakan kejadian konyol tersebut. Mulai dari ke’lebay’annya reportase lewat phoner, make korsase yang gede pas mau liputan di Priok sampe mendesah-desah sendiri di kamar villa di Puncak. Hahahaha.
Banyak lagi kejadian konyol yang nggak mungkin saya sebutin satu per satu (makanyaaa, baca dong bukunya.hehe). Tapi, nggak cuma kejadian konyol aja, suasana haru pun mewarnai tugas liputan Teh Noni. Baca aja di bagian “Be a Saviour”. Ternyata, reporter juga bisa lhoo jadi seorang pahlawan..
Mau cerita tentang cintaa?? Adddda bangettss (‘S’ nya ada duapuluh, biar ngomongnya “megggang” banget). Teh Noni curhat tentang kisah cintanya juga at the last chapter of this book. Lengkap laah..
Buat Kalian yang pengen banget jadi seorang Reporter kaya Teh Noni, saya sarankan kudu wajipp baca buku ini. Ngga cuma suasana liputan yang diceritain, tapi juga di buku ini diceritain sistematika pekerjaan seorang reporter dan camera person-nya. Sampe-sampe masalah shift kerja juga dijabanin di sini.
Buat Teh Noni (semoga Beliau baca tulisan ini.hahaha,ngarep!!). You’re The Best!! You inspired me so much to reach my dream…!!! Thank’s for made this inspired book for us. Baru kali ini saya baca buku tentang dunia jurnalistik yang begitu konyol dan dodolipret seperti ini. Hidup Teh Noniiii…!! Hahahaha..
Bandung, 26 Mei 2009
:: iio ::
Tuesday, May 19, 2009
GPMB Spirit
wew... GPMB?!
Yap, GPMB merupakan singkatan dari Grand Prix Marching Band. Event ini biasa diadakan setiap akhir tahun yang merupakan ajang bergensi dan pertaruhan integritas unit-unit marching band di Indonesia. Saat ini saya bergabung di Nawala Pos Indonesia Marching Band-di brass line tercinta (trumpet), haha. Setelah kurang lebih 5 tahun absen di ajang GPMB, unit kami akhirnya bisa menjajal kembali panasnya parquet Istora. Tapi ini merupakan kesempatan pertama bagi saya, karena saya baru masuk pada Agustus 2007 dan dilantik pada Februari 2008. (Angkatan Muda di Umur yang Tidak Cukup Muda??Oh Yeah??!?!)
Ga nyangka banget angkatan saya dan teman-teman akhirnya diberi kesempatan untuk ikut menjajal kenikmatan dan perjuangan GPMB XXV..
Dari sekelumit cerita senior yang sudah saya dengarkan (sampe-sampe ga bosen buat minta ceritain lagi), GPMB adalah suatu event yang sakral, ga gampang, penuh tawa dan air mata, penuh luka (baik luka fisik, luka batin, dan luka hati-cinta.red,haha). Persiapan GPMB itulah perjuangan yang sebenernya. Kami berlatih kurang lebih 10 bulan hanya untuk menaklukkan waktu sekitar 12 menit (kalo ga salah, begitu?).
Setelah menunggu kepastian apakah kita bakal ikut GPMB XXV atau ngga, akhirnya bulan Maret kmarin turunlah 2 lembar kertas partitur berjudul 'The Best of Final Fantasy'... sebagai seorang pemula yang masih bisa dibilang amatiran, megang kertasnya aja udah ngadaregdeg... Huwaww!!! *Perjuangan pun dimulai...*
Yep..minggu pertama pas partitur turun, ngga taunya ada salah satu stasiun tv lokal yang ngeliput kegiatan latihan kita...(tumbennn banget, akhirnya masup tipi!!). Dan senangnya, temen2 kampus saya yang gatau apa itu Nawala Pos Indonesia Marching Band pada tau saat itu juga..!!(hahaha, bangganya!)
Bukan karena ada reporter TV yang ngeliput kita, bukan karena pengen gaya melenggang di parquet Istora, tapi bagi saya pribadi, GPMB merupakan suatu anugerah terindah dan tugas yang patut diperjuangkan bagi saya dan teman-teman sebagai insan Nawala. Insan yang bangga akan unitnya, Insan yang bangga dengan solidaritas unitnya, Insan yang bangga akan kedahsyatan unitnya. The miracle will come if we believe that everything we do are miraculous..
Dan bulan Mei ini kami udah masuk lagu kedua, masih bertemakan Final Fantasy juga (yaiyalah..). Semangat pun masih membara di benak kami (Hope so…).
Mamah, Papah, Kakek, Nenek, Adik, Kakak, Bude, Pakde, Tante, Om, Uwa, Mang, Bibi, Teman, Sahabat, Pacar(?!?! I don't have this one actually,haha)...doakan kami yah, supaya kami kuat, selalu diberi kesehatan, diberi keridhoan, diberi semangat yang tinggi... untuk menuju medan perang yang menakjubkan bersama teman-teman......
Thanks for read my note..
Maaf jadi curhat..hahahaha
Bandung, 19 Mei 2009
:: iio ::
WALL E, Robot Karatan Penyelamat Bumi
Pemain : Ben Burt, Paul Eiding, Jeff Garlin, Kim Kopf
Sutradara : Andrew Stanton
Produksi : Walt Disney Studios Motion Pictures
Film Wall E bercerita tentang sebuah robot pengepak sampah bernama Wall E (Waste Allocation Load Lifter Earth-Class) yang hidup sendirian di muka bumi bersama seekor kecoa. Setiap harinya Ia mengepak sampah-sampah di bumi yang telah menutupi hampir seluruh permukaan bumi. Kondisi saat itu tidak lagi memungkinkan manusia untuk tinggal di muka bumi, diceritakan bahwa manusia telah hijrah ke sebuah pesawat luar angkasa bernama Axiom dan hidup di sana.
Hingga suatu saat pesawat luar angkasa mendarat di bumi dan mengantarkan Eve, sebuah robot modern yang ditugasi untuk meneliti apakah bumi sudah layak untuk dihuni kembali. Wall E dan Eve berkenalan dan bisa ditebak bahwa Wall E jatuh cinta kepada Eve. Wall E lalu memberikan sebuah tanaman kepada Eve. Eve memasukkan tanaman tersebut ke dalam tubuhnya dan secara seketika, Eve tidak berfungsi kembali (mati). Pesawat luar angkasa akhirnya kembali lagi ke bumi dan menjemput Eve. Namun, Wall E mengira Eve telah diculik. Diam-diam Wall E ikut “numpang” pesawat tersebut.
Sampailah pesawat tersebut di sebuah pesawat induk yang ternyata adalah Axiom, tempat manusia berada. Kehidupan manusia sudah serba instan disana. Manusia hanya tinggal duduk santai untuk menikmati hari-harinya. Digambarkan di film ini manusia sudah memiliki bentuk badan yang tidak ideal lagi. Badan terlalu gemuk, jari kaki dan tangan semakin mengecil karena kurangnya penggunaan alat-alat tubuh.
Singkat cerita, kapten pilot pesawat induk Axiom menerima laporan ditemukannya tanaman di muka bumi. Menurut kapten tersebut, ini adalah waktu yang tepat bagi manusia untuk pulang kembali ke bumi. Namun, sang auto pilot tidak menyetujuinya. Intrik pun terjadi. Hingga pada akhirnya, manusia kembali ke bumi dan memulai kembali kehidupannya dengan bercocok tanam, layaknya memulai peradaban baru.
Film ini sebenarnya adalah sindiran secara tidak langsung bagi kita. Produksi sampah di muka bumi menjadi tidak terkendali. Sampah-sampah yang sulit untuk didaur ulang menjadi banyak dan akhirnya menumpuk di bumi. Akan dibawa kemanakah sampah-sampah tersebut?
Banyak sekali scene yang saya suka. Seperti saat pesawat meninggalkan bumi, menembus atmosfer dan menabrak satelit-satelit yang bertebaran di angkasa. Jelas sekali ternyata sampah bukan hanya di permukaan bumi, sampah satelit pun tetap mengambang di angkasa.
Belum lagi penggambaran pesawat induk yang super mewah, serba digital, dan serba instan. Manusia dibuat terbuai oleh hadirnya teknologi. Hanya duduk untuk memulai kehidupan sehari-harinya. Bahkan untuk makan pun tinggal bicara apa yang Ia inginkan dan seketika makanan datang dalam bentuk cup. Sangatlah tidak sehat. Karena sikap malasnya tersebut, manusia menjadi sangat sulit untuk berjalan. Jangankan berjalan, berdiri saja pun mereka susah.
Hingga sampai di bumi, mereka seperti membuat peradaban baru kembali. Cara berjalan mereka sangat aneh (mungkin itulah penggambaran manusia purba zaman dahulu). Mereka memulai kehidupan di bumi dari nol dengan bercocok tanam kembali. Akankah rangkaian cerita ini harus terjadi kepada kita?
Lagi-lagi saya harus berkata bahwa kita jangan sampai terlena oleh hadirnya teknologi. Janganlah kita mengiginkan hal-hal yang sifatnya instan, karena itu tidak akan memberikan pembelajaran yang utuh bagi diri kita.
Bandung, 19 Mei 2009
:: iio ::
EAGLE EYE, Ketika Teknologi Tidak Mengenal Arah dan Batasan
Pemain : Shia Labeouf, Michelle Monaghan, Billy Bob Thornton
Sutradara : D.J Caruso
Produksi : Paramount Pictures
Film Eagle Eye bercerita tentang apa yang terjadi apabila penggunaan teknologi menjadi tidak terkontrol. Diawali oleh seorang biasa, Jerry Shaw (Shia Labeouf) dan Rachel Holloman (Michelle Monagan) yang tiba-tiba ditelepon oleh seseorang yang misterius. Penelepon memberikan instruksi-instruksi aneh yang menujukan mereka ke suatu tempat. Keduanya bukannya tak mencoba kabur, tapi si penelepon rupanya begitu berkuasa sehingga memaksa mereka selalu kembali patuh pada perintah-perintahnya. Berkali-kali nyaris tertangkap, keduanya diselamatkan melalui lampu merah yang mendadak hijau, penghancur kendaraan yang otomatis bergerak, hingga bantuan orang-orang yang juga diancam perempuan misterius melalui telepon.
Keduanya sadar bahwa penelepon tadi bukanlah seorang manusia, namun ia adalah sebuah mesin teknologi pertahanan Pentagon yang bernama “Aria”. Aria menginstruksikan mereka untuk membunuh Presiden Amerika yang telah membuat suatu kesalahan fatal. Presiden Amerika tersebut menginstruksikan kepada bawahannya untuk menyerang sebuah rombongan yang diduga buron teroris Afghanistan kelas kakap. Namun ternyata bom tentara AS itu menyerang segerombol orang yang sedang berada di sebuah prosesi pemakaman. Atas keputusan fatal itulah, Aria menyimpulkan bahwa presiden ini harus dibunuh sebelum Amerika itu hancur oleh Presiden itu sendiri. Ia lalu membuat sebuah konspirasi pembunuhan presiden dengan melibatkan Jerry Shaw dan Rachel Holloman.
Film ini sangat menarik bagi saya. Film ini membuat kita berpikir, akankah suatu saat kita yang harusnya menguasai teknologi, malah dikuasai oleh teknologi? Memang, saat ini teknologi sudah bukan sekedar lifestyle lagi, namun ini semua menyangkut kebutuhan manusia. Tapi bagaimana jadinya apabila penggunaan teknologi menjadi semakin tidak terkontrol?
Beberapa scene dalam film ini menggambarkan kecanggihan teknologi yang tidak dapat saya duga sebelumnya. Ternyata kapan saja dan dimanapun kita berada, kita bisa saja diintai oleh pihak-pihak tertentu yang berkepentingan melalui sinyal telepon, kamera CCTV, dan koneksi internet, misalnya.
Kesimpulannya, meskipun kita memang sudah sulit untuk dilepaskan dari barang-barang berteknologi, hendaknya barang-barang tersebut kita pergunakan secerdas mungkin. Karena memang sebagai manusia, kita diciptakan oleh Allah SWT sebagai makhluk yang berakal budi. Secanggih-canggihnya teknologi yang ada, mereka tidak akan dapat menandingi akal dan budi manusia. Kalaupun ada, pasti itu hanyalah sebuah karya film belaka.
Bandung, 19 Mei 2009
:: iio ::
