Tuesday, May 19, 2009

WALL E, Robot Karatan Penyelamat Bumi


Pemain : Ben Burt, Paul Eiding, Jeff Garlin, Kim Kopf

Sutradara : Andrew Stanton

Produksi : Walt Disney Studios Motion Pictures

Film Wall E bercerita tentang sebuah robot pengepak sampah bernama Wall E (Waste Allocation Load Lifter Earth-Class) yang hidup sendirian di muka bumi bersama seekor kecoa. Setiap harinya Ia mengepak sampah-sampah di bumi yang telah menutupi hampir seluruh permukaan bumi. Kondisi saat itu tidak lagi memungkinkan manusia untuk tinggal di muka bumi, diceritakan bahwa manusia telah hijrah ke sebuah pesawat luar angkasa bernama Axiom dan hidup di sana.

Hingga suatu saat pesawat luar angkasa mendarat di bumi dan mengantarkan Eve, sebuah robot modern yang ditugasi untuk meneliti apakah bumi sudah layak untuk dihuni kembali. Wall E dan Eve berkenalan dan bisa ditebak bahwa Wall E jatuh cinta kepada Eve. Wall E lalu memberikan sebuah tanaman kepada Eve. Eve memasukkan tanaman tersebut ke dalam tubuhnya dan secara seketika, Eve tidak berfungsi kembali (mati). Pesawat luar angkasa akhirnya kembali lagi ke bumi dan menjemput Eve. Namun, Wall E mengira Eve telah diculik. Diam-diam Wall E ikut “numpang” pesawat tersebut.

Sampailah pesawat tersebut di sebuah pesawat induk yang ternyata adalah Axiom, tempat manusia berada. Kehidupan manusia sudah serba instan disana. Manusia hanya tinggal duduk santai untuk menikmati hari-harinya. Digambarkan di film ini manusia sudah memiliki bentuk badan yang tidak ideal lagi. Badan terlalu gemuk, jari kaki dan tangan semakin mengecil karena kurangnya penggunaan alat-alat tubuh.

Singkat cerita, kapten pilot pesawat induk Axiom menerima laporan ditemukannya tanaman di muka bumi. Menurut kapten tersebut, ini adalah waktu yang tepat bagi manusia untuk pulang kembali ke bumi. Namun, sang auto pilot tidak menyetujuinya. Intrik pun terjadi. Hingga pada akhirnya, manusia kembali ke bumi dan memulai kembali kehidupannya dengan bercocok tanam, layaknya memulai peradaban baru.

Film ini sebenarnya adalah sindiran secara tidak langsung bagi kita. Produksi sampah di muka bumi menjadi tidak terkendali. Sampah-sampah yang sulit untuk didaur ulang menjadi banyak dan akhirnya menumpuk di bumi. Akan dibawa kemanakah sampah-sampah tersebut?

Banyak sekali scene yang saya suka. Seperti saat pesawat meninggalkan bumi, menembus atmosfer dan menabrak satelit-satelit yang bertebaran di angkasa. Jelas sekali ternyata sampah bukan hanya di permukaan bumi, sampah satelit pun tetap mengambang di angkasa.

Belum lagi penggambaran pesawat induk yang super mewah, serba digital, dan serba instan. Manusia dibuat terbuai oleh hadirnya teknologi. Hanya duduk untuk memulai kehidupan sehari-harinya. Bahkan untuk makan pun tinggal bicara apa yang Ia inginkan dan seketika makanan datang dalam bentuk cup. Sangatlah tidak sehat. Karena sikap malasnya tersebut, manusia menjadi sangat sulit untuk berjalan. Jangankan berjalan, berdiri saja pun mereka susah.

Hingga sampai di bumi, mereka seperti membuat peradaban baru kembali. Cara berjalan mereka sangat aneh (mungkin itulah penggambaran manusia purba zaman dahulu). Mereka memulai kehidupan di bumi dari nol dengan bercocok tanam kembali. Akankah rangkaian cerita ini harus terjadi kepada kita?

Lagi-lagi saya harus berkata bahwa kita jangan sampai terlena oleh hadirnya teknologi. Janganlah kita mengiginkan hal-hal yang sifatnya instan, karena itu tidak akan memberikan pembelajaran yang utuh bagi diri kita.

Bandung, 19 Mei 2009

:: iio ::

No comments:

Post a Comment