Sunday, August 15, 2010

Museum, Bukan Hanya Seonggok Bangunan Tua

Apa sih yang pertamakali dipikirkan jika mendengar kata "MUSEUM"?? Pasti pikiran kita semua tertuju pada seonggok bangunan tua kuno yang berisi benda-benda zaman purba dari berbagai wilayah di dunia. Pengap,  membosankan, dan angker. Begitulah pikiran kebanyakan orang-orang yang saya tanyai ketika saya minta pendapatnya tentang museum. Bahkan ada juga anak-anak yang ogah datang ke museum gara-gara melihat salah satu tayangan misteri televisi yang syuting di tempat tersebut (lagi-lagi media yang memiliki peran).

Museum sendiri berasal dari bahasa Yunani, "Museion" yang berarti tempat suci untuk memuja sembilan dewi yang dijadikan simbol dalam dunia ilmu pengetahuan dan kesenian (Edi Dimyati-47 Museum Jakarta, 2010).

Kesadaran ini dimulai ketika saya penasaran dengan yang namanya Kota Tua Jakarta. Pada saat libur kuliah, saya menyempatkan diri ke Jakarta, karena kebetulan ayah saya juga bekerja dan tinggal di sana. Saat ditawari mau jalan-jalan kemana oleh ayah saya, yang terlintas dalam pikiran saya hanya Kota Tua (yang hanya bisa saya lihat di televisi saja sebelumnya). Akhirnya berangkatlah saya ke sana bersama ibu dan adik saya. Kami diantar oleh supir kantor dan di drop di Kantor Pos Fatahillah. Udara Jakarta yang (aduhai) panasnya tidak menyurutkan niat saya (entah dengan ibu dan adik saya, hehe) untuk mengelilingi kawasan Kota Tua Jakarta.

Tujuan pertama (pastinya) adalah Museum Sejarah Jakarta atau yang biasa disebut Museum Fatahillah. Bangunannya yang kolosal memberikan kesan tersendiri bagi saya. Museum ini terdiri dari beberapa ruangan, diantaranya Ruang Sejarah Jakarta, Ruang Etnografi, serta Ruangan yang berisi mebel-mebel bekas peninggalan pemerintahan Belanda (di lantai 2). Memang, kesan angker sempat meliputi pikiran saya saat memasuki gedung ini (khususnya saat berada di lantai 2). Tapi, kesan itu tertutupi dengan beragam koleksi museum yang informatif dan sarat makna.

Selanjutnya kami bergegas ke Museum Wayang yang letaknya di sebelah Museum Fatahillah. Bangunan museum ini menurut saya sangat unik, seperti rumah boneka (tentunya dengan ciri khas klasik). Di dalamnya terdapat banyak sekali koleksi wayang baik dari seluruh penjuru Indonesia, hingga wayang-wayang dari luar negeri, diantaranya dari Thailand, Suriname, Malaysia, India, Pakistan, dan beberapa negara lainnya. Ternyata di dalam museum ini ada juga koleksi boneka asli Unyil dan kawan-kawan (sayang, saya lupa mengabadikannya).

Setelah puas di Museum Wayang, kami lalu menuju ke Museum bank Mandiri. FYI, museum ini merupakan museum perbankan yang pertama dan terlengkap di Indonesia. Museum ini mengoleksi beragam hal mengenai dunia perbankan dari zaman baheula sampai sekarang. Diantaranya koleksi surat-surat berharga, sempoa, peti uang, brankas, dan lainnya. Namun, lagi-lagi saya terkagum-kagum dengan sentuhan arsitektur gedung ini. Perabotan klasik dan ragam hiasan kaca patri menghiasi gedung perkantoran zaman Belanda ini.

Ternyata ibu saya sudah merengek minta pulang (kebalik yaa..??). Nggak minta pulang juga sih, soalnya beliau janjian sama temennya di Bogor. Walhasil, perjalanan Kota Tua nggak berhasil keubek semuanya dan berakhir di Stasiun Kota yang dilanjutkan dengan menaiki sebuah kereta listrik menuju Bogor....


Tapi.. tapiiii, besoknya saya bersama tim (taeelaaa, tiiim... cuma bertiga doang juga) berjelajah di Monumen Nasional alias Monas. Jakarta lagi terik-teriknya tuh, berasa matahari ada 5 di atas kepala. Tapi kebayar juga sih sama keindahan dan kemegahan monumen yang bangunannya terinspirasi dari alu dan lumpang ini. Apalagi sama diorama-diorama 3 dimensi yang mantap yang menceritakan perjalanan bangsa Indonesia dari zaman purbakala hingga usaha-usaha para pahlawan mempertahanakan kemerdekaan Indonesia. Setelah itu, kami menuju Ruang Kemerdekaan yang berada di dalam cawan tugu. Sumpah, merindiiiing!!! Bukan karena tempatnya yang rada gelap dan bikin angker, tapi sama display yang ada di dalamnya. Di tempat ini, pengunjung diajak merenungkan hikmah dari perjalanan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan. Ada empat atribut Kemerdekaan RI, yaitu Peta Kepulauan Negara Republik Indonesia, Bendera Sang Saka Merah Putih, Lambang Negara Bhinneka Tunggal Ika, dan Pintu Gapura yang di dalamnya berisi naskah proklamasi kemerdekaan (yang satu ini yang bikin saya super merinding, bagussss bangeeet). Dijamin, masuk ke dalam ruangan ini, rasa nasionalisme secara kuat akan bangkit dalam diri Anda..!!!

Nggak mau melewatkan waktu, perjalanan dilanjutkan menuju puncak Monas. Ngantri juga sih, wong lift nya cuma ada 1 (inget banget pas ngantri ada anak TK mirip banget Susno Duadji.. haha, jadi keinget sama Oom yang satu ini. By the way, berita Oom ini kok udah ilang yaaa?? hehe). Sesampainya di puncak Monas, pemandangan Kota Jakarta dari atas terlihat jelas. Macet, demonstrasi, dan polusi. Tapi, nggak itu juga sih, banyak kok hal-hal lain yang saya kagumi saat melihat Jakarta dari atas, salah satunya Masjid Istiqlal yang super megah. Puas di puncak, kami pun turun kembali ke lantai dasar. Setelah jepret sana-sini (narsis pangkal eksis..!!), kami pun pulang....

Singkat cerita, saya kembali ke Bandung dan beraktivitas normal lagi (kuliah, siaran, marching band, makan, tidurrrr... hehe). Saat buka-buka facebook, ada sebuah informasi terbitnya sebuah buku mengenai museum, yaitu "47 Museum Jakarta" karya Edi Dimyati. Haha, kebetulan banget nih buku datang di saat saya memulai mencintai hal-hal yang berbau museum-museum-an... (maksa banget lah, hehe). Tanpa mikir nunggu wangsit, saya langsung tancap gas ke Gramed dan beli buku itu. Baca di rumah, dan langsung khatam. Wah, ternyata banyak juga tempat-tempat bersejarah di Jakarta yang wajib disambangi nih, pikir saya. Saya pun membuat rencana untuk berlibur kembali ke Jakarta dan berniat menjelajahi museum-museum yang direkomendasikan di buku ini.

Waktu berlibur pun tibaaa...!!! Kembali ke Jakarta dan merealisasikan semua rencana..!!

Museum yang pertama kami kunjungi adalah Museum Nasional RI atau bisa disebut Museum Gajah. Wiih, gede banget nih museum, jadi keinget sama museum di film Night at the Museum-nya Ben Stiller. Udah pasti, museumnya gede, koleksinya juga bejibunnn. Jumlah koleksinya paling banyak diantara museum yang ada di Indonesia. Kompliit banget. Mulai dari zaman purba (pastiii), struktur geografi alam Indonesia, koleksi prasasti, penggolongan peradaban di Indonesia, kebudayaan bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke, dan sebagainya. Menurut buku yang saya baca, ternyata nggak semua koleksi yang dimiliki museum ini dipamerkan. Dari total 142.000 koleksi, hanya sekitar 30% saja yang dapat dinikmati pengunjung (gedungnya segede apa kalo emang bener 100% semua koleksi dipajang..????). Cuma sayang waktu saya ke sana, eskalator museum ini lagi mati (untungnya ada lift, jadi nggak usah meniti tangga eskalator, ogaaah deh..!!)


Hujan sempat membuat perjalanan kami terhenti sejenak. Pak sopir pun menyarankan untuk menuju Museum Taman Prasasti yang berlokasi tidak jauh dari Museum Nasional RI. Yaa, saya sih oke-oke aja. Brangkaaat..

Sesampainya di sana, hujan emang udah berhenti. Meskipun judulnya Makam, cuma nggak ada kesan angker di dalamnya (ada sih dikit mah.. hahaha, sepi pula). Suasana adem pun menyelimuti taman ini. Saya berjalan bersama adik saya menyusuri jalan setapak yang mengelilingi taman ini. Prasasti nisan bertebaran di dalamnya. Ada yang berbentuk tugu, monumen, piala, replika, patung, dan sebagainya. Museum Taman Prasasti ini cocok dijadikan tempat untuk menyalurkan hobi fotografi. Nggak heran, saat saya ke sana, ada beberapa kelompok orang yang sedang melakukan pemotretan. Saya?? Nggak mau kalah dooong... hehehe. Tapi pemandangan karung-karung sampah yang berisi dedaunan kering merusak suasana taman yang asri ini.

Setelah puas di Taman Prasasti, kami menuju Museum Sumpah Pemuda, di bilangan Kramat Raya. Kenapa Museum Sumpah Pemuda? Karena, saya lahir bertepatan dengan peringatan Sumpah Pemuda, jadi ada kedekatan tersendiri dengan momen tersebut, hehe. Pertamakali saya tiba di museum itu, hanya satu kata, sepi. Ya mungkin karena saya datang mepet jam 15.00, jam akan ditutupnya museum tersebut. Untungnya penjaga museum masih mempersilakan kami masuk (hehe, makasih Paak..!!). Namun, saat saya melihat buku tamu, tertulis pada hari itu, baru 1 orang yang datang ke museum tersebut. Miris banget. Padahal, museum itu letaknya persis di pinggiran jalan yang ramai.

Saat saya masuk ke dalamnya, entah mengapa seperti ada kebanggaan tersendiri dalam diri saya. Melihat foto para tokoh pemuda, dan foto-foto aktivitas mereka, serta perjalanan Kongres Pemuda pada saat itu, membuat saya semakin bangga pada mereka, para pemuda Indonesia yang berusaha mempersatukan bangsa ini. Koleksi museum ini diantaranya adalah Biola W. R. Supratman yang digunakan untuk melantunkan lagu "Indonesia Raya".

Hari pun sudah mulai sore. Perjalanan kali ini ditutup di Museum Sumpah Pemuda. Puas?? BELUM. Masih banyak museum lain yang belum (dan sepertinya, harus) saya jelajahi. Menjadi suatu ketagihan bagi saya untuk berpetualang mengarungi keanekaragaman sejarah bangsa ini. Darimana lagi kita belajar sejarah selain dari bangunan-bangunan berharga ini? Dengan memahami sejarah bangsa ini, baik secara disadari atau tidak, kita pasti akan lebih menghargai bangsa ini bersama perjuangan para pendahulu kita.

Terimakasih banyak kepada Ibu dan Adik saya, Lala, yang udah mau ikut jalan-jalan bareng ke museum. Semoga ada manfaatnya ya, Dek..

Nggak lupa makasih banyak juga buat Kang Edi Dimyati, selaku penulis buku "47 Museum Jakarta" yang menginspirasikan saya untuk terus berniat menjelajahi beragam museum-museum spektakuler (ditunggu buku tentang museum di Bandung / Jawa Barat ya Kang, biar lebih deket, hehe..)


Hidup Museum Indonesia..!! MERDEKAAA...!! 



 :: iio ::

Friday, February 19, 2010

My Orangers' Diary on Grand Prix Marching Band XXV-2009

Yeah.. it's February.. still fresh on 2010

Tapi kenangan indah itu masih suka berjalan dalam pikiran saya. Pengalaman yang luar biasa di akhir 2009. Permainan akbar buat kami dalam satu unit marching band. Grand Prix Marching Band (GPMB)  XXV-2009. Sebuah event yang membuat saya dan teman-teman lainnya merasa bersatu, bersama, berbagi indahnya dinamika kehidupan..

Event yang diadakan di Istora Senayan, Jakarta itu memang terlalu sulit untuk saya lupakan. Tapi  bukan itu kenangan yang selalu menancap, tapi kenangan masa-masa latihan kami, proses pembentukan kepribadian kami menjadi seorang "artis kelas atas" (kata-kata yang selalu terngiang dan meluncur dari ucapan pelatih). Proses latihan yang berat, keras, penuh intrik, dan selalu ada dinamika naik turunnya emosi dalam diri kami masing-masing. Amarah, canda, tawa, lelah, kesal, cinta, gembira, semua bercampur aduk di hari-hari proses latihan kita.

Bagi saya pribadi, banyak kenangan indah dan pergulatan emosi dalam diri yang sangat dinamis, dan  dilematis. Saya bergabung di Marching Band Nawala Pos Indonesia sejak 2007 dan dilantik awal 2008. Tercatat sebagai anggota Brass Line di section Trumpet. GPMB 2009 ini merupakan langkah pertama saya  mengikuti event akbar dalam dunia marching band di Indonesia. GPMB ini diikuti oleh unit-unit  marching band besar se-Indonesia untuk mempertaruhkan eksistensi dan kehebatannya.

Maret 2009-seperti dalam postingan saya sebelumnya, "GPMB Spirit", partitur lagu pertama turun  dengan judul "The Best of Final Fantasy". Setelah lagu 1 beres, turunlah partitur lagu 2 dengan  judul "Liberi Fatali". Begitu seterusnya, lagu 3 berjudul "Tifa's Theme" dan lagu terakhir berjudul  "Don't be Afraid". Semua lagu itu diambil dari permainan game dan film Final Fantasy VII dan VIII.

Semua lagu sudah beres dan rapi, lengkap dengan dinamikanya (istilahnya udah dapet feel nya gituu...  hehe). Saatnya display pada awal Oktober 2009. Bagi yang belum tahu, display adalah konfigurasi  bentuk baris-berbaris para pemain dalam marching band. Wah, tambah semangat saya untuk berlatih,  berlatih memainkan musik sambil berjalan ke sana-kemari sesuai chart display.

Tiba-tiba, tepat tanggal 14 Oktober 2009 (tepat 2 minggu sebelum ulang tahun saya..), saya masuk rumah sakit dan diopname. Dokter menyatakan saya terkena Hepatitis A karena kecapean. Sudah bisa diduga, keluarga saya mengambil kesimpulan bahwa saya sakit karena kecapean berlatih untuk GPMB. Dari sana orang tua saya melarang saya untuk berlatih lagi dan tidak usah ikut berpartisipasi dalam GPMB. Dokter pun mendukungnya (pastinyaaa!@#$%^&*).

Speechless. Saya udah divonis nggak boleh kecapean dan saya dilarang untuk ikut dalam GPMB!! Thanks all!!! Perjuangan saya dari turunnya lagu 1 sampai lagu 4 beres adalah suatu hal yang sia-sia, pikir saya waktu itu. Teman-teman band juga kaget mendengar saya nggak bisa bergabung lagi bersama mereka. Namun, mereka tetap memberi semangat untuk terus kuat. Pilihan satu-satunya, saya mungkin berada di kursi penonton.

Perjuangan selama 7 bulan harus dijawab dengan duduk manis di kursi penonton Istora? Tidak. Ternyata Allah berkehendak lain, dan Ia memiliki suatu pesan atas segala kejadian yang Ia berikan kepada saya.

Saya mencoba membujuk sekeras mungkin orang tua saya agar pendirian mereka goyah dan mempercayakan saya untuk kembali latihan setelah 1 bulan lamanya saya bedrest. Secara perlahan saya membujuk mereka sesuai dengan saran kakak tertua saya (Thanks Bung Andrey for your advices!!). And BINGO!! Mereka pun bisa luluh lantak pendiriannya akibat permohonan saya yang sangat memelas, namun dengan syarat-syarat yang berlaku (apa bedanya saya sama iklan provider handphone kalu begitu--"syarat dan ketentuan berlaku".. haha). Mereka mengizinkan saya asal saya bisa menjaga kondisi tubuh dengan benar dan syarat yang 'rada' berat, saya boleh ikut GPMB asalkan saya tidak turun dalam display (pindah ke section lain yang tidak ikut dalam display). Ada 2 section yang tidak turun dalam display, yaitu Pit Instrument dan Aksesoris (seperti Cymbal Stand, Drum Set, Chimes, Timpani, dan lainnya). Hmm, ya sudahlah apapun itu, saya oke-oke aja, meskipun berat meninggalkan trumpet nomor 8 yang amat saya cintai itu, yang penting bisa ikut GPMB, pikir saya.

Berangkatlah saya menuju ke tempat latihan (November 2009). Perasaan deg-degan, malu, kangen, bersatu saat itu. Iya lah, hampir 1 bulan saya benar-benar vakum latihan. Sampai di sana, saya lihat mereka sudah masuk dalam display lagu 1. Saat teman-teman 'ngeh' saya datang dan ngliatin mereka latihan, wuuuiiiihh.. mereka bersorak seperti melihat makhluk purba yang akhirnya bangkit kembali.. hahahaha!!! Pelukan dan perkataan "Kamana wae, geus cageur gening..?" membuat saya berpikir untuk langsung melakukan Press Conference dengan segera bahwa saya sudah sehat dan bangkit kembali.. (Jrekk Nonggg!!).

Pelatih akhirnya memanggil saya dan berbicara serius.

"Udah sembuh yo.??" tanya pelatih.

"Udah atuh, A, makanya saya dateng juga, hehe." jawab saya (anak didik yang kacrut dan tidak sopan terhadap pelatih)

"Masih kuat nggak kalo main di display lagi, pan udah apal atuh dari lagu 1-4?" tanya pelatih lagi.

"Mmm.. kayanya nggak kuat, A, sieun karugrag lagi (takut tepar lagi). Lagian ga dibolehin sama Mamah kalo harus main display lagi." kata saya. (Dasar anak manja, bawa-bawa Mamah segala)

"Oh, udah diizinin gening sama orang tua?"

"Udah, yah, asal itu, ga boleh main display lagi." kata saya.

"Mmm, gini (nada serius), saya teh mau nge-drill kamu jadi 2nd FC (Field Commander.red), soalnya kan kamu udah apal lagu sama temponya. Paling nanti belajar tangannya aja harus gimana (conducting). Yaah, ga begitu capeklah, paling 12 menit ngegerakin tangan doang.." kata pelatih.

"Apaaa??" saya terkejut. (angle kamera bolak-balik mengambil gambar saya dan pelatih secara close-up, seperti setiap ending sinetron "Tersanjung")

"Waduh, gimana yah..? Ya udah lah saya coba, A" kata saya dengan ekspresi cool (padahal dalam hati udah meledak aja pengen ketawa kegirangan loncat-loncat kodok)

Jujur aja, sebenernya secara diam-diam saya menaruh minat yang luar biasa tinggi menjadi seorang Field Commander. Tapi, dalam hati saya.. "Ah, mana mungkin, Yoo.. lu aja baca partitur masih kaya Azis Gagap gitu.." Dan hal itulah, yang bikin saya hanya bisa bermimpi menjadi seorang FC.

Singkat cerita, akhirnya saya pada hari itu juga langsung mencoba menjadi seorang 2nd FC. Bedanya dengan FC utama, kalau 2nd FC lebih bersifat mobile, jalan ke sana-'ngonduct'-jalan lagi ke sini-'ngonduct lagi'. Istilahnya saya menjadi "kepanjangan tangan" sang FC utama, supaya pemain nggak kehilangan tempo.

Mungkin teman-teman band pada kaget liat saya tiba-tiba "Ngefceh" di hadapan mereka. Disurakin-lah saya,  "Addeeuuuhh, gaya euy si Rio, kamana atuh FC..." Malu sih pertamakali, tapi ah biarinlah, pede aja kalee.. wong sama-sama belajar.

Dan hari-hari latihan saya berubah total dari 'bercumbu' dengan trumpet kesayangan, menjadi seorang 2nd FC. Pertama-tama sih pegel, karena conducting juga harus pakai tenaga, biar aksennya jelas dan terlihat mantaps. Selain itu juga secara pelan-pelan saya harus tahu suasana 'mood' band, biar dapet (sekali lagi) 'feel' nya.

Semakin sering saya berlatih, semakinlah saya dapat 'feel' band, asiiik banget!!! Emosi permainan band mulai saya dapatkan. Terkadang, kalau sang FC utama tidak datang latihan, (beliau lumayan sibuk dengan pekerjaannya, tapi saya salut banget beliau menyempatkan datang latihan untuk kami, meskipun hanya saat weekend, dan hari biasa kalau beliau sempat) otomatis saya harus menggantikannya. Wuih, kalau udah gitu, keringat ngucur deres banget mulai dari kepala sampai kaki. Berasa fitness, hahaha.

Hingga suatu hari, pelatih membuat keputusan, bahwa saya di-switch menjadi FC utama. Hoooaaa.... kaget luar biasaaaa..!!! Kejutan apalagi yang Allah berikan buat saya?? pikir saya dalam hati. (Untuk kesekian kalinya) Perasaan yang bercampur aduk nge-blend di dalam hati. Dan sangat dilematis. Di satu sisi saya luar biasa senang tiada terkira mendengar kabar tersebut, tapi di sisi lain otomatis keberlangsungan dan keberhasilan band ada di tangan dan sikap saya. Menjadi suatu beban bagi saya untuk menghadapinya. Selain itu, perasaan nggak enak yang luar biasa karena sudah menggeser orang yang lebih senior selalu mengganjal bagi saya. Tapi untungnya, rekan saya tersebut sangat mengerti dan terus mendukung serta memotivasi saya untuk terus berlatih dan menjadi yang terbaik. Kalau nggak ada beliau, kayanya gaya conducting saya nggak akan sebaik sekarang.

Dan, berganti lagi peran saya. Sekarang saya tidak lagi mobile ke sana-kemari, tapi berdiri tegap memimpin band di suatu stage. Untungnya, teman-teman band yang lain selalu menyemangati saya untuk tetap percaya diri. Thanks Guys..

Masalah nggak cuma sampai di situ. Masalah yang lain pun tiba. Kostum. Yapp!! Kostum FC kali ini beda banget sama kostum FC marching band seperti biasanya. Karena tema kali ini adalah "The Best of Final Fantasy", maka kostum FC meniru gaya salah satu pemeran di Final Fantasy VII, dengan baju yang (Oh God!!) spektakuler!! Kalau bisa saya gambarkan, jadi tangan kiri berlengan panjang, sedangkan tangan kirinya LEKBONG!!! Haloooooo... apakabar dunia dengan badan saya yang kurus kering kerempeng ini?? Mana setelah sembuh dari sakit berat badan saya drop sampai 47 kilogram!!

Kata pelatih "Bisalah nya digedein dikit badannya, makan telor bebek sama L-Men geura."

"Heu...." jawab saya (bingung harus ngomong apalagi euy-shock berat.hahaha)

Dan belilah saya L-Men dan meminumnya setiap sebelum latihan. Sampai niat tuh susu saya bekel ke tempat latian, haha. Dan hasilnya.. Taraaa... lumayanlah otot lengan kebentuk 'sedikit'. Yah paling nggak lengan keliatan gede pas tampil nanti, hehe..

Detik-detik menjelang tampil pun tiba. Sebelum kami semua berangkat ke Jakarta, diadakan suatu acara pelepasan di GOR Padjadjaran, Bandung. Inilah penampilan perdana kami dengan full kostum. Kami semua tampil di hadapan manajemen PT. Pos Indonesia, para alumni band, serta orangtua dan rekan-rekan kami. Saat itu orang tua saya nggak datang, jadilah nenek saya yang datang. Nenek saya kaget luar biasa saat mengetahui sang cucu tercinta menjadi seorang FC. Maklum, karena nenek saya tahunya saya adalah pemain trumpet. Begitu selesai acara, nenek saya turun dan memeluk saya. Beliau berujar bahwa beliau sangat bangga terhadap saya. Alhamdulillah.. Makasih Eyang...

Sehari sebelum tampil kami sudah pergi menuju ke Jakarta. Di Jakarta, ketahanan stamina dan mental
kami benar-benar diuji. Latihan uji coba lapangan di Istora benar-benar membentuk mental kami. Selama ini kami merasa siap di kandang sendiri, tapi setelah melihat arena dan unit marching band lainnya, kami merasa tidak berdaya dan belum punya apa-apa. Untungnya pelatih dan kakak-kakak official selalu menyemangati kami  bahwa kami bisa.

Kami tampil tanggal 26 Desember 2009 tepat pukul 18.25 WIB. Saat menunggu giliran di lorong masuk arena adalah saat-saat yang paling mendebarkan dalam hidup saya. Untungnya kami semua saling menenangkan dan menyemangati. Nggak lupa, foto-foto dulu sebelum masuk arena (narsis biar tetep eksiss!!).

*Wah, kok ngetiknya jadi ikut-ikut gemeteran gini yah??*

Begitu pintu arena dibuka.... Jrenggg!!! Sorak sorai penonton membahana di dalam arena. Membuat kami semakin semangat untuk show off di hadapan mereka (berdampingan dengan perasaan nervous yang luar biasa!!). Yang pertama masuk adalah pemain front ensemble dengan alat-alat mereka. Lalu giliran pemain Color Guard dan disusul dengan march-in seluruh pemain. Saya masuk paling belakang dengan membawa Gunblade-Gunblade'an (haha, itu loh, pedang gede yang bentuknya pedang yang jadi satu sama pistol juga). Keluarga saya sudah menunggu di bangku penonton untuk melihat kami semua. Mereka juga kaget kalau nama saya disebutkan sebagai FC utama. Haaha.. Mereka tahunya saya sebagai 2nd FC.

And It's Show Time..!! Ternyata, bayangan saya akan suasana arena yang mencekam tidak menjadikan halangan yang besar untuk tampil secara total. Nervous?? iya, tapi hanya di beberapa menit pertama. Selebihnya saya enjoy dan menikmati semuanya, meskipun masih paranoid sama batas waktu penampilan. Karena, lagi-lagi tempo dan penampilan band ada di tangan saya. Pokoe saya berusaha untuk enjoyyy banget pada saat itu... Sumpah!! Haha

Pengumuman masuk atau tidaknya unit kami pada tahap final baru diumumkan pada hari Minggu dini harinya. Kami dibangunkan dan dikumpulkan di suatu ruang tengah penginapan. Hoooaahhhmm, ngantuk
banget pada waktu itu. Saya juga ngebantu temen-temen yang lain untuk bangun. Ya Allah, sumpah susah bangett!! Pas saya ngebangunin bidadari-bidadari Color Guard, ampun..!! Saking capeknya, saya ngegedor pintu (bukan ngetuk pintu lagi) sambil duduk di depan pintu mereka.

"Tok.Tok.Tok..."

"Hey hayu banguuun.."
ajak saya. (masih berdiri dengan dinamika suara yang lembut-alias piano)

"Udah bangun yoo??" tanya salah satu official menanyakan bagaimana hasilnya.

"Blum euy, hararese (blum, susah banget)."

"Tok.Tok.Tok..." (masih sabar)

"Hayu banguuunn..." saya mengajak kedua kalinya (udah mulai males berdiri dengan dinamika suara yang sedikit mengeras-mulai masuk forte)

"Coba di telpon geura ke salah satu anak." saran sang official itu.

Nyoba nelpon.. "tuuut...tuuut...."

No answer

Mulai duduk di depan pintu

"Heeeuhhh..." keluh saya sambil mematikan sambungan telepon.

Udah nggak sabar

"DOK.DOK.DOK..."

"Ooooyyy... Banguuuunnn!!!! Pengumuman yeeeuuuhhh!!!!" (menggedor pintu sambil duduk kayak orang lagi mukul bedug-fortesimo!!!)

"Klik" pintu terbuka

"Hehehehe.... tadi teh aku ngedenger sih, cuma masih ngantuk.." jawab seseorang sambil nongol.

"Haaah... ayo langsung ke atas atuh nyaa.." kata saya (gila gue sabar banget yaaa..??)

Semua sudah berkumpul di ruang tengah. Tegang. Nasib kami ditentukan dari hasil permainan semalam. Yaa ngantuk, yaa kesel harus dibangunin selarut itu, yaa deg-degan.. wuihh!! Sang pembina yang membacakan peringkat kami atas penampilan semalam. Beliau hanya membacakan saja, kami berada di peringkat 16, dan yang masuk final itu peringkat 1-15. Jrebb!! Hening. Ada yang ngeluh, ada yang nggak percaya, ada yang nangis dan saling berpelukan, ada yang ketiduran (haha, sempet-sempetnya
uy!! Tebak saya berada dalam keadaan apa saat itu??)Perasaan kecewa hadir setelah pembacan pengumuman itu. Bapak pembina sudah menyabarkan kami semua dan mengikhlaskan saja keadaan ini. Beginilah reaksi kami :

"Ah, masa sih... heeuu??" (manja)

"Jadi ini teh nggak masuk final...??" (sambil nangis)

"Damn..!!"

"Maksudnya apa sih ini?? Nggak ngerti."
(Tetoott!!)

"Ngrooooooookkkk"

"Hmmm..."
(senyum-senyum sendiri)

Dan ternyata, para pelatih iseng dan niat bikin rekapitulasi nilai yang palsu buat kita..

"Hehe, sebenernya yang itu salah, Pak (sambil ngasih lembaran baru ke pembina). Ini nih yang benar. Maaf ya, Pak." kata sang pelatih sambil ketawa-ketiwi (hiihihii).

"Haaaaahhh...??" begitulah reaksi anak-anak.

"Yaa, jadi kita masuk final!! Meskipun kita ada di peringkat paling akhir." ujar pembina yang diamini oleh pelatih.

"Hwaaaaa!!! Hahaahahahahahahaha...!!" Semuanya teriak.

Dan, terkabullah doa kita untuk masuk final. Ini juga berarti kita tampil pertama dalam final divisi umum, karena diurut dari peringkat paling bawah dulu ke atas. Setelah bubar, langsung tidur lagi..

Besoknya kami tampil di final setelah Dzuhur (kalo nggak salah, hehe). Semua udah niat tampil abis-abisan dan mati-matian buat final. Suasana persatuan kian merekatkan kami semua. Berdiri dan berbaris menunggu di lorong masuk arena benar-benar hal yang paling bikin gelisah. Ya sakit perut, pengen pipis. "Ah, nothing to lose aja..!!" pikir saya saat itu.

Oke, dan pintu masuk arena pun dibuka. Sorak-sorai penonton (lebih penuh pastinya!) menambah getaran di kaki. Apalagi pas MC nyambut kami semua, "Kita sambut, Marching Band Nawala Pos Indonesia-Bandung!!!"

"Whhhooaaaaa!!! Aaaargghhh!!! Wittt wiiwww!!!" sorak-sorai penonton membahana di sentero Istora.

Saya berusaha untuk lebih lebih enjoy dari semifinal. Alhamdulillah banyak yang saya pelajari saat semifinal kemarin. Jadi untuk final, saya nggak kaget lagi. Dan saya liat, teman-teman pemain punmerasakan hal yang sama, mereka enjoyy banget mainnya, bikin saya yang mimpin juga jadi nyaman. Yaa, saling menyamankan lah ya istilahnya. Hahaha.

Seluruh pemain mengekspresikan semua hasil jerih payah jatuh bangun latian mereka saat final. semua TOTAL! Dan bar-bar terakhir saat puncak lagu terakhir, emosi saya memuncak dan refleks saya teriak sekeras-kerasnya. Betul-betul penghabisan!

"ORANGERSS!! UUUGH!!" teriak para pemain di akhir paket penampilan kami. Semua emosi keluar saat itu juga. Perjuangan kami benar-benar sampai di puncaknya. Semua mengeluarkan yang terbaik dalam diri mereka masing-masing. Tinggal menunggu hasil dari perjuangan kami semua.

Pengumuman pun dimulai. Mendadak Istora hening. semua unit berkumpul dalam satu tempat dan mengharapkan hasil yang terbaik untuk unitnya masing-masing. Termasuk kami. Dalam GPMB XXV kali ini, ada juga juara per caption, diantaranya Busana Pemain dan FC Terbaik, FC Terbaik, The Best Music Analysis Horn Line, The Best Music Analysis Percussion Line, The Best Color Guard, dan banyak lagi. Jadi, setiap unit punya harapan juara, paling tidak dari captions itu.

Dari pengumuman juara per caption, nama unit kami tidak muncul-muncul. Ya, memang target kami paling tidak naik peringkat saat final. That's it.

Dan, tidak disangka tidak diduga, tiba-tiba unit kami disebut..

"Busana Field Commander Terbaik.. Juara III.. Nawala Pos Indonesia Marching Band-Bandung!!!"

"WAAAAAARRGGHHH...!!????!?!?!?!"

Kami yang berkumpul sontak heboh dan nggak menyangka bisa dapat predikat itu. Saya pribadi nggak nyangka bisa mendapatkan predikat itu. Perjuangan panas-panasan pakai kostum yang terbuat dari rajutan, make up ala costplay, rambut diwarna dadakan, kostum kurang bahan alias lekbong sebelah, ternyata ada hasilnya. Alhamdulillah.... Terimakasih Ya Allah.

Pengumuman urutan hasil babak final pun diumumkan. Dan akhirnya, unit kami berada di urutan ke 14, naik 1 peringkat dari babak semifinal. Alhamdulillah, perjuangan kami semua ada progress, walaupun hanya naik 1 peringkat, namun itu juga merupakan sebuah karunia yang harus amat patut untuk disyukuri.

Dengan diumumkannya peringkat kami, berakhirlah sudah rangkaian perjuangan kami sekitar kurang lebih sepuluh bulan. Derai air mata, canda tawa, cinta, semangat, menghasilkan hasil yang dapat memenuhi target kami semua. Memang tidak terlalu memuaskan, akan tetapi perjuangan kami, semangat kami, tidak akan pernah putus hanya sampai di sini. Waktu masih tetap berjalan dan waktu pula yang menunggu semangat kami untuk bangkit kembali.

Saya pribadi mengucapkan banyak sekali terimakasih kepada Allah SWT yang selalu setia mendengar doa-doa kami; terimakasih atas dukungan dan bimbingan para pelatih yang terus menggebrak semangat kami untuk terus maju. Terimakasih juga untuk kakak-kakak official yang nggak kenal lelah untuk selalu membantu kami; untuk orang tua dan keluarga kami semua yang mendukung setiap kegiatan positif ini; Bapak-bapak supir Bus Cipaganti dan Bus Poltekpos (punten saya nggak tau namanya, hehe); segenap pemain Nawala Pos Indonesia Marching Band yang selalu semangat (keep on fire, Guys!); nggak lupa buat Purel PT. Pos Indonesia yang telah mewujudkan impian kami; supporter Orangers yang bela-belain datang ke Istora hanya untuk menonton dan mendukung kami (thanks for Gita Pakuan-Bandung!, Para karyawan PT. Pos Indonesia-Jakarta); dan seluruh teman-teman kami serta pihak-pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu-persatu, yang selalu mendukung kami semua. Terimakasih.Terimakasih.Terimakasih.

Dan Alhamdulillah, ternyata saya berada di peringkat VII nasional untuk posisi Field Commander. Sebuah anugerah yang tidak disangka dan tidak diduga. Terimakasih sekali lagi atas segala kepercayaan yang telah diberikan kepada saya untuk menjadi seorang Field Commander dalam ajang ini.

Semoga rangkaian perjuangan ini bisa menjadi suatu pembelajaran hidup yang sangat berharga bagi semua pihak yang terlibat di dalamnya. Saya bangga bisa menjadi bagian dari band ini!!!




NAWALAAAAAA!!!!

OOORAAAANGERRRRRSSS!!!!! 

Semoga kami bisa berjuang lagi di GPMB XXVI-2010!! Manajaaaaa...!!! :DD


*Sumber foto :
:: iio ::

Saturday, December 5, 2009

Sorrow


Saya bingung...
Saya pusing...
Saya egois...
Dan terkadang saya lelah untuk memikirkan masalah ini..
Hal yang sepele..
Saya merasa sangat bersalah..

Saya senang sekali hidup ini ditemani oleh seseorang yang sangat mengerti keadaan saya. Hari-hari saya ditemani oleh segudang perhatian yang ia berikan. Setiap pagi hingga malam perhatian itu meluncur lewat kata-katanya yang sederhana namun bermakna indah bagi saya..

Namun, apa yang ia berikan nampaknya sangat tidak sepadan dengan apa yang saya berikan kepadanya. Dengan beragam kegiatan yang banyak, saya terkadang 'melupakan dirinya'. Saya terlalu senang dan terlena dengan seabreg aktivitas yang saya jalani. Saya memang orang yang aktif, senang mencoba hal-hal yang baru. Kegiatan apapun saya jalani, jika itu memang hal yang positif dan cocok bagi saya.

Aktivitas yang penuh itu membuat saya dan dirinya jarang sekali untuk bertemu dan berkomunikasi secara langsung. Hal itu membuat saya cenderung lebih dekat bersama para sahabat saya. Saya hampir tidak ada waktu untuk dirinya.

Bagi saya, dia wanita yang 'terlalu mengerti dan terlalu mengalah' kepada saya. Saya yakin, dibalik semua itu, pastilah ia selalu menangis dalam hatinya atas segala imbas dari kesibukan saya. Meskipun dia tidak mau mengakuinya.

Sebelum kita membuat janji untuk bersama, saya memang sudah mengatakan bahwa "inilah saya, dengan segala sifat yang saya miliki, dengan kebosanan yang sering datang kepada saya, dengan mood yang kadang berganti, dengan seabreg aktivitas yang saya jalani, dengan.., dengan..,dengan.... sebagainya...."

Dan Ia berkata, "ya, saya mengerti dan saya tidak mau menganggu aktivitas kamu.."

Hingga suatu hari saya harus masuk rumah sakit karena suatu penyakit. Dia datang dan memberi perhatian penuh bagi saya. Momen itu bila saya ingat-ingat akan selalu membuat saya merasa bersalah.

Terkadang (lagi).. saya merasa terbebani dan selalu menebak apakah dirinya kecewa dengan sikap saya selama ini..? Saya memang bukan yang terbaik.. dan apakah dirinya juga terbebani dengan keberadaan saya??

Saya mengecewakan, wajar apabila para sahabat saya juga menyalahkan saya, karena saya memang salah.
Apakah mungkin saya bukan yang terbaik untuk dirinya...?? Maafkan saya...

*It's Complicated

:: iio ::

Tuesday, May 26, 2009

REPORTER AND THE CITY, Catatan Konyol Seorang Reporter



Penulis : Noni Wibisono

Penerbit : Gagas Media

Harga : Rp 30.000,00 (Gramedia Bookstore)

Pekerjaan sebagai reporter emang nggak gampang. Harus berpikir cepat dalam situasi yang sangat tidak kondusif sekalipun. Banyak tantangan yang harus dihadapi mereka ketika menembus “medan perang”. Nggak cuma itu, nampaknya ancaman kematian pun selalu membayangi mereka di setiap tugas peliputan. Waktu sedetik pun amat berharga bagi mereka. Itulah yang saya suka dari pekerjaan seorang reporter, I Want to be Like Them…!!!

Kalian mungkin berpikir seorang reporter identik dengan keseriusan dan kemandirian yang kuat. Tapi, Kalian cuma bakal mendapatkan sedikit dari hal-hal tersebut kalo Kalian baca buku ini. Yang ada malah seorang reporter yang beda dari yang lainnya. Manja, Penakut, Lebay, dan Fashionable. Berbeda dari pandangan orang mengenai seorang reporter yang kucel-kumel dan nggak mementingkan penampilannya saat liputan. Siapakah dia?? Dialah NONI WIBISONO, seorang Reporter dan News Presenter Trans TV. Awalnya saya nggak nyangka Teh Noni adalah orang yang manja, penakut, lebay, dan fashionable seperti itu. Keliatan banget pas ngebawain berita mukanya tuh ayyyuuu banget, keibuan, dan lemah lembut. Ternyata, Oooh No..

Buku ini menceritakan tentang kegiatan Teh Noni pada saat Beliau menjalankan tugas liputannya. Kejadian konyol mewarnai proses peliputan berita tersebut. Siapa lagi kalo bukan Teh Noni sendiri yang menciptakan kejadian konyol tersebut. Mulai dari ke’lebay’annya reportase lewat phoner, make korsase yang gede pas mau liputan di Priok sampe mendesah-desah sendiri di kamar villa di Puncak. Hahahaha.

Banyak lagi kejadian konyol yang nggak mungkin saya sebutin satu per satu (makanyaaa, baca dong bukunya.hehe). Tapi, nggak cuma kejadian konyol aja, suasana haru pun mewarnai tugas liputan Teh Noni. Baca aja di bagian “Be a Saviour”. Ternyata, reporter juga bisa lhoo jadi seorang pahlawan..

Mau cerita tentang cintaa?? Adddda bangettss (‘S’ nya ada duapuluh, biar ngomongnya “megggang” banget). Teh Noni curhat tentang kisah cintanya juga at the last chapter of this book. Lengkap laah..

Buat Kalian yang pengen banget jadi seorang Reporter kaya Teh Noni, saya sarankan kudu wajipp baca buku ini. Ngga cuma suasana liputan yang diceritain, tapi juga di buku ini diceritain sistematika pekerjaan seorang reporter dan camera person-nya. Sampe-sampe masalah shift kerja juga dijabanin di sini.

Buat Teh Noni (semoga Beliau baca tulisan ini.hahaha,ngarep!!). You’re The Best!! You inspired me so much to reach my dream…!!! Thank’s for made this inspired book for us. Baru kali ini saya baca buku tentang dunia jurnalistik yang begitu konyol dan dodolipret seperti ini. Hidup Teh Noniiii…!! Hahahaha..

Bandung, 26 Mei 2009

:: iio ::

Tuesday, May 19, 2009

GPMB Spirit

wew... GPMB?!

Yap, GPMB merupakan singkatan dari Grand Prix Marching Band. Event ini biasa diadakan setiap akhir tahun yang merupakan ajang bergensi dan pertaruhan integritas unit-unit marching band di Indonesia. Saat ini saya bergabung di Nawala Pos Indonesia Marching Band-di brass line tercinta (trumpet), haha. Setelah kurang lebih 5 tahun absen di ajang GPMB, unit kami akhirnya bisa menjajal kembali panasnya parquet Istora. Tapi ini merupakan kesempatan pertama bagi saya, karena saya baru masuk pada Agustus 2007 dan dilantik pada Februari 2008. (Angkatan Muda di Umur yang Tidak Cukup Muda??Oh Yeah??!?!)

Ga nyangka banget angkatan saya dan teman-teman akhirnya diberi kesempatan untuk ikut menjajal kenikmatan dan perjuangan GPMB XXV..

Dari sekelumit cerita senior yang sudah saya dengarkan (sampe-sampe ga bosen buat minta ceritain lagi), GPMB adalah suatu event yang sakral, ga gampang, penuh tawa dan air mata, penuh luka (baik luka fisik, luka batin, dan luka hati-cinta.red,haha). Persiapan GPMB itulah perjuangan yang sebenernya. Kami berlatih kurang lebih 10 bulan hanya untuk menaklukkan waktu sekitar 12 menit (kalo ga salah, begitu?).

Setelah menunggu kepastian apakah kita bakal ikut GPMB XXV atau ngga, akhirnya bulan Maret kmarin turunlah 2 lembar kertas partitur berjudul 'The Best of Final Fantasy'... sebagai seorang pemula yang masih bisa dibilang amatiran, megang kertasnya aja udah ngadaregdeg... Huwaww!!! *Perjuangan pun dimulai...*

Yep..minggu pertama pas partitur turun, ngga taunya ada salah satu stasiun tv lokal yang ngeliput kegiatan latihan kita...(tumbennn banget, akhirnya masup tipi!!). Dan senangnya, temen2 kampus saya yang gatau apa itu Nawala Pos Indonesia Marching Band pada tau saat itu juga..!!(hahaha, bangganya!)

Bukan karena ada reporter TV yang ngeliput kita, bukan karena pengen gaya melenggang di parquet Istora, tapi bagi saya pribadi, GPMB merupakan suatu anugerah terindah dan tugas yang patut diperjuangkan bagi saya dan teman-teman sebagai insan Nawala. Insan yang bangga akan unitnya, Insan yang bangga dengan solidaritas unitnya, Insan yang bangga akan kedahsyatan unitnya. The miracle will come if we believe that everything we do are miraculous..

Dan bulan Mei ini kami udah masuk lagu kedua, masih bertemakan Final Fantasy juga (yaiyalah..). Semangat pun masih membara di benak kami (Hope so…).

Mamah, Papah, Kakek, Nenek, Adik, Kakak, Bude, Pakde, Tante, Om, Uwa, Mang, Bibi, Teman, Sahabat, Pacar(?!?! I don't have this one actually,haha)...doakan kami yah, supaya kami kuat, selalu diberi kesehatan, diberi keridhoan, diberi semangat yang tinggi... untuk menuju medan perang yang menakjubkan bersama teman-teman......

Thanks for read my note..

Maaf jadi curhat..hahahaha

Bandung, 19 Mei 2009

:: iio ::